Kenali aku sebagai airmata di udara dingin yang kerap menusuk doa-doa yang mengikhlaskan luka-lukaku yang membatu
-Aku telah menafsirkanmu sebagai kenangan,maka abadilah aku diantara sajak yang membeku bersama luka dan airmata
-Kenali aku sebagai airmata di udara dingin yang kerap menusuk doa-doa yang mengikhlaskan luka-lukaku yang membatu
-Sampaikan salamku pada rindu yang melarung,pada sajak yang tak pernah selesai,pada luka yang mengekal di airmatamu
-Tak ada yang kau tinggalkan disini,selain luka yang mengekal di ingatan
-Cintailah aku sebagai sunyi,yang menenangkan kau di riuh hari-hari lelahmu
-Aku : sebentuk puisi yang dilacurkan waktu,kemudian menjadi abu di rapal sunyiku
-Jika cinta adalah puisi nan mesra,maka rindu adalah kecupan-kecupan kecil di bibirmu
-Setelah malam,akan ada pagi yang menyinari basah tangismu diantara luka-luka yang mengabu
-Katakan,bila cinta itu kebahagiaan,mengapa harus mengobarkan api duka di atas makam sajakku
-Sepeninggal dirimu,maka sajak mana yang harus kulukai lagi? Demi melepasmu di kekal ingatanku
-Aku mengabu pada pudar senja,pada hening malam,pada hari esok yg meminjam pusara dari makam sajak-sajakku
-Jika mencintaimu adalah luka,maka biarlah aku menjadi rindu dalam doa-doa yang tak kau ketahui
-Aku sedang belajar menabahkan luka,sementara waktu,adalah belati yang siap menikam,entah kapan
-Jika kata-kataku tak mampu kau terjemahkan,maka jadikanlah aku sebagai kosong di hatimu
-Jadikanlah aku kenangan paling sedih di harimu,sebagai luka yang tak sembuh oleh waktu
-maka biarlah aku menjadi sajak, menjadi riuh di sunyi hatimu,menjadi pelukan di dingin malammu
-Setelah kau belajar ketabahan pada daun yang gugur,Perpisahan tak begitu menyedihkan bukan?
-Setidaknya kita masih menyisakan rindu,yang tersisa dari amarah yang berjelaga
-kini puisiku telah belajar menabahkan luka-lukanya pada debar cemas malam yang tersisih
-Tersenyumlah kekasih,sebab hanya itu yang mampu menguatkan hati kita,saat ini
-Ku airmatakan sajak-sajakku,dalam indah melodi luka yang melarung,mendermakan pelukan pada rindu malam yang bersenandung
-Aku harus pergi,mungkin saatnya kutitipkan rindu pada tabah puisi yang jatuh diantara hujan sepi
-Pada pertemuan kita nanti oleh takdir,ijinkan aku bertanya “masih mengekalkah aku dalam airmatamu?”
-Dia begitu mencintaimu,pada hal-hal yang tak bisa dijelaskan oleh puisi,oleh jelaga asap-asap luka
-Hingga dalam suatu hujan,pelukan-pelukan kita berkata “mungkin inikah rindu yang tak bertuan,tak berasal
-Sajak,jika sudah ditulis tanpa henti-hentinya ia menggoreskan titahnya,seperti itulah aku mencintaimu
-Sepertinya aku harus bergegas,melipat dalam-dalam luka dan sepiku,kenangan terus saja memburuku tanpa jemu
-Jika sajak,dan airmata tak mampu menenangkan,maka resapilah kematian,dia begitu indah dengan sayapnya
-Pada elegi pagi yang kau buat,aku mengekal dalam luka,dalam sajak-sajak layu yang dimekarkan ingatan
-Sayangku,tak perlu dikau sesempurna syahrini itu,aku cukupkan ketidak-sempurnaan mu dgn sempurna cintamu
-Diantara pendar luka yang menganga,mungkin ini puisi terakhir untuknya
-Sisakan sedikit tempat untukku mengekal di airmatamu,mendalami luka di udara sepimu
-Sebagaimana hujan,ia membasahi ladang-ladang puisi yang kering,mendewasakan tiap luka dalam deras jatuhnya
-Dalam hujan yang menderas keras,sesempurna apakah sajak melukai sore ku hari ini???
-Kita sama-sama pernah melewati gelombang dan hujan badai.percayalah manisku,cintamu menyempurnakan senjaku sore ini
-Aku telah lama layu,pada cinta-cinta yang tak kau ketahui,sekalipun aku tabah dalam isak tangis di doa malamku
-Ciuman itu,biarlah menjelma sebagai rahasia kecil kita,mengekal di ingatan waktu
-Ijinkan aku bertemu dengan suaramu,sekedar menyudahi dahaga anak-anak rindu yang diterlantarkan waktu
-Singgahlah,walau hanya sekedar menjadi pelarianmu,Sebab di dadaku selalu ada tempat bagimu
-Aku pernah merayakan sepi diatas luka-lukaku sendiri ~
Seumpama ombak kau adalah gelombang pasang dalam hempasanmu, aku perahu kecil yang ditabahkan airmata
-Bahkan kenanganmu selalu ada,di setiap rintihan sunyi doa,menjadi penutup pada kalam-kalam syahduku yg paling akhir
-Setidaknya,kau telah menyampaikan perasaanmu ; kau tak mencintaiku lagi,pada pelukan-pelukan yang kosong ini
–Tabahlah di keheningan doa, di deras hujan yang jatuh, di kesunyian malam, yg kerap merayapi punggung rindumu
-Sebelum memasuki hidupmu adinda,kuingatkan: Kita takkan pernah tau,sebanyak apa airmata yang kan kita jatuhkan nanti
-Tabahlah pada keheningan sajakmu,pada akhirnya takdir akan mempertemukan kita di ujung rindu
-Sepagi ini masih saja kau tak peduli,sementara aku masih menabahkan luka diantara sajak-sajakku
-Sebab aku yg kekal di ujung ingatanmu,maka rapal-lah aku dalam bisumu,pun dalam diam sajakmu
-Kau selalu ada di pikiranku,di hatiku. Tak ada sesiapapun yang bisa merebutnya,dariku
-Kenang aku sebagai senja,sesuatu yang menghangatkan sebelum dingin malam merayapi tubuhmu
-Tiada tempat seindah sajak,untuk menuangkan rindu ini,padamu..
-Sebenarnya cinta itu sederhana,hanya tatapan lalu turun ke dalam hati,seperti aku mencintai kekasihmu.
-Sebagaimana hujan. cintaku,membahasi kantong dahaga kasihmu,semakin deras,semakin terisi penuh
-Manisku,ini hanyalah masalah waktu,apakah rinduku atau rindunya,yang akan menemuimu lebih dahulu
-Begitulah cinta,kadang tak kau ketahui dimana dia mencintaimu,dalam puisi-puisi mesra,atau dalam luka yang menganga.
-Kau sedang asyik menyelami hati yang baru.sementara aku,sibuk dengan sajakku, sekedar menulisi luka di baris muramnya
-Aku ingin sendiri. dilupakan malam,dalam pelukan sajak yang tenang,dalam bintang yang sepi, dimana aku menangisi doa-doa
-Ijinkan aku menjadi cinta pada sajakmu, peluk pada rindumu.dan doa,di ujung malammu
-Malam masih saja resah,sementara aku menanti kabar malaikat,tentang doa-doa yang kusemaikan di lelap tidurmu
-Akan ada pelukan lain menantimu,bukan aku atau rinduku,kita telah sama-sama mengerti jalan kita berliku.
_MOH HISYAM MUDIN