Kamis, 19 Januari 2017

Munajah rindu

Kenali aku sebagai airmata di udara dingin yang kerap menusuk doa-doa yang mengikhlaskan luka-lukaku yang membatu

-Aku telah menafsirkanmu sebagai kenangan,maka abadilah aku diantara sajak yang membeku bersama luka dan airmata

-Kenali aku sebagai airmata di udara dingin yang kerap menusuk doa-doa yang mengikhlaskan luka-lukaku yang membatu

-Sampaikan salamku pada rindu yang melarung,pada sajak yang tak pernah selesai,pada luka yang mengekal di airmatamu

-Tak ada yang kau tinggalkan disini,selain luka yang mengekal di ingatan

-Cintailah aku sebagai sunyi,yang menenangkan kau di riuh hari-hari lelahmu

-Aku : sebentuk puisi yang dilacurkan waktu,kemudian menjadi abu di rapal sunyiku

-Jika cinta adalah puisi nan mesra,maka rindu adalah kecupan-kecupan kecil di bibirmu

-Setelah malam,akan ada pagi yang menyinari basah tangismu diantara luka-luka yang mengabu

-Katakan,bila cinta itu kebahagiaan,mengapa harus mengobarkan api duka di atas makam sajakku

-Sepeninggal dirimu,maka sajak mana yang harus kulukai lagi? Demi melepasmu di kekal ingatanku

-Aku mengabu pada pudar senja,pada hening malam,pada hari esok yg meminjam pusara dari makam sajak-sajakku

-Jika mencintaimu adalah luka,maka biarlah aku menjadi rindu dalam doa-doa yang tak kau ketahui

-Aku sedang belajar menabahkan luka,sementara waktu,adalah belati yang siap menikam,entah kapan

-Jika kata-kataku tak mampu kau terjemahkan,maka jadikanlah aku sebagai kosong di hatimu

-Jadikanlah aku kenangan paling sedih di harimu,sebagai luka yang tak sembuh oleh waktu

-maka biarlah aku menjadi sajak, menjadi riuh di sunyi hatimu,menjadi pelukan di dingin malammu

-Setelah kau belajar ketabahan pada daun yang gugur,Perpisahan tak begitu menyedihkan bukan?

-Setidaknya kita masih menyisakan rindu,yang tersisa dari amarah yang berjelaga

-kini puisiku telah belajar menabahkan luka-lukanya pada debar cemas malam yang tersisih

-Tersenyumlah kekasih,sebab hanya itu yang mampu menguatkan hati kita,saat ini

-Ku airmatakan sajak-sajakku,dalam indah melodi luka yang melarung,mendermakan pelukan pada rindu malam yang bersenandung

-Aku harus pergi,mungkin saatnya kutitipkan rindu pada tabah puisi yang jatuh diantara hujan sepi

-Pada pertemuan kita nanti oleh takdir,ijinkan aku bertanya “masih mengekalkah aku dalam airmatamu?”

-Dia begitu mencintaimu,pada hal-hal yang tak bisa dijelaskan oleh puisi,oleh jelaga asap-asap luka

-Hingga dalam suatu hujan,pelukan-pelukan kita berkata “mungkin inikah rindu yang tak bertuan,tak berasal

-Sajak,jika sudah ditulis tanpa henti-hentinya ia menggoreskan titahnya,seperti itulah aku mencintaimu

-Sepertinya aku harus bergegas,melipat dalam-dalam luka dan sepiku,kenangan terus saja memburuku tanpa jemu

-Jika sajak,dan airmata tak mampu menenangkan,maka resapilah kematian,dia begitu indah dengan sayapnya

-Pada elegi pagi yang kau buat,aku mengekal dalam luka,dalam sajak-sajak layu yang dimekarkan ingatan

-Sayangku,tak perlu dikau sesempurna syahrini itu,aku cukupkan ketidak-sempurnaan mu dgn sempurna cintamu

-Diantara pendar luka yang menganga,mungkin ini puisi terakhir untuknya

-Sisakan sedikit tempat untukku mengekal di airmatamu,mendalami luka di udara sepimu

-Sebagaimana hujan,ia membasahi ladang-ladang puisi yang kering,mendewasakan tiap luka dalam deras jatuhnya

-Dalam hujan yang menderas keras,sesempurna apakah sajak melukai sore ku hari ini???

-Kita sama-sama pernah melewati gelombang dan hujan badai.percayalah manisku,cintamu menyempurnakan senjaku sore ini

-Aku telah lama layu,pada cinta-cinta yang tak kau ketahui,sekalipun aku tabah dalam isak tangis di doa malamku

-Ciuman itu,biarlah menjelma sebagai rahasia kecil kita,mengekal di ingatan waktu

-Ijinkan aku bertemu dengan suaramu,sekedar menyudahi dahaga anak-anak rindu yang diterlantarkan waktu

-Singgahlah,walau hanya sekedar menjadi pelarianmu,Sebab di dadaku selalu ada tempat bagimu

-Aku pernah merayakan sepi diatas luka-lukaku sendiri ~

Seumpama ombak kau adalah gelombang pasang dalam hempasanmu, aku perahu kecil yang ditabahkan airmata

-Bahkan kenanganmu selalu ada,di setiap rintihan sunyi doa,menjadi penutup pada kalam-kalam syahduku yg paling akhir

-Setidaknya,kau telah menyampaikan perasaanmu ; kau tak mencintaiku lagi,pada pelukan-pelukan yang kosong ini

–Tabahlah di keheningan doa, di deras hujan yang jatuh, di kesunyian malam, yg kerap merayapi punggung rindumu

-Sebelum memasuki hidupmu adinda,kuingatkan: Kita takkan pernah tau,sebanyak apa airmata yang kan kita jatuhkan nanti

-Tabahlah pada keheningan sajakmu,pada akhirnya takdir akan mempertemukan kita di ujung rindu

-Sepagi ini masih saja kau tak peduli,sementara aku masih menabahkan luka diantara sajak-sajakku

-Sebab aku yg kekal di ujung ingatanmu,maka rapal-lah aku dalam bisumu,pun dalam diam sajakmu

-Kau selalu ada di pikiranku,di hatiku. Tak ada sesiapapun yang bisa merebutnya,dariku

-Kenang aku sebagai senja,sesuatu yang menghangatkan sebelum dingin malam merayapi tubuhmu

-Tiada tempat seindah sajak,untuk menuangkan rindu ini,padamu..

-Sebenarnya cinta itu sederhana,hanya tatapan lalu turun ke dalam hati,seperti aku mencintai kekasihmu.

-Sebagaimana hujan. cintaku,membahasi kantong dahaga kasihmu,semakin deras,semakin terisi penuh

-Manisku,ini hanyalah masalah waktu,apakah rinduku atau rindunya,yang akan menemuimu lebih dahulu

-Begitulah cinta,kadang tak kau ketahui dimana dia mencintaimu,dalam puisi-puisi mesra,atau dalam luka yang menganga.

-Kau sedang asyik menyelami hati yang baru.sementara aku,sibuk dengan sajakku, sekedar menulisi luka di baris muramnya

-Aku ingin sendiri. dilupakan malam,dalam pelukan sajak yang tenang,dalam bintang yang sepi, dimana aku menangisi doa-doa

-Ijinkan aku menjadi cinta pada sajakmu, peluk pada rindumu.dan doa,di ujung malammu

-Malam masih saja resah,sementara aku menanti kabar malaikat,tentang doa-doa yang kusemaikan di lelap tidurmu

-Akan ada pelukan lain menantimu,bukan aku atau rinduku,kita telah sama-sama mengerti jalan kita berliku.

_MOH HISYAM MUDIN

Selasa, 17 Januari 2017

Aku baper lagi

Bait-bait puisi ini ditujukan pada senja yg merona dan membawa ronta hati kita pada sang pujaan hati.

Jika dengan melupakan diriku adalah cara untuk mengingat dirimu, maka cinta adalah kemanunggalan
Di remang senja, rinduku masih belajar meng-eja tentang bahagia jingga atau kelabunya dusta dalam asmara
Hanya sepi yang ku punya, sunyi mengajarkanku tentang ketabahan, setabah tanah yang di genangi air hujan

Apalah itu umur panjang, sehat yang meruah ataupun harta melimpah. Bila di senja ini saja aku masih tanpamu
Tanpa berfikir panjang hati ini memikirkanmu tanpa ragu dan tiada putus asa dalam benak ini
senja abu-abu, terjemahkan tentang rindu yang telah punah.

Ketika hati tergores sembilu, luka cinta teteskan darah
Dibawah senja sore ini. Aku menemukan rindu diantara jingganya. Dimana dulu kata itu terlontar rindu, yaa rindu

Mungkin senja tercipta, ketika Tuhan tersenyum bahagia.
Tengah aku menalar bahagia ini, menyandarkanku pada sebentik buaian mimpi dibalik tabir kehidupan sarat kejutan. ya, kau
ketika senja hadir aku mencoba meraba arti bahagia yang kau kemas,aku mencoba memahami setiap bait yang katanya itu bahagia
Sebuah senja; di bibir samudera seseorang menanti jumpa, hingga pekat mengecup sukmanya, ia sadar semua sia-sia
Di balik senja, ada nestapa yang selalu berharap jadi cahaya ketika malam datang tanpa gemintang atau rembulan
Untukmu yang saat ini kurindu… Terima kasih untuk semua kasihmu, perhatianmu, pengertianmu, adalah yang terindah yang pernah ku dapat
Kenapa senja hari ini kelabu? Tak bisakah kau sedikit biru? Cukup hati ini saja yang pilu, menangis membenam rindu
Ku membuang semua nyeriku untuk senyummu, untuk tawamu dan untuk bahagiamu. Itulah caraku mencintaimu
Hanya mampu mengabadikanmu dalam rasa, melalui tinta, membekap ratapan kenangan. Cerita yang telah usai. Seperti senja ini
Untukmu yang kurindu… Berbaringlah, lelaplah dalam letihmu. Bayangkan hadirku untuk tenangkanmu. Biarkan kuterjaga untukmu
Berlayar arungi samudera rindu. Melintas cakrawala hati, menuju nirwana cintamu
Senja kian menua, di matamu; cinta mengabadikan jingganya, janganlah menangis, kelabu mukamu; aku tak ingin menikmatinya
Rama-rama bersayap madah hinggap lalu menetap di dada.

Kelak, ia melahirkan cinta pada purnama ketiga
Di sudut semesta, biru langit bermahkota senja membias jingga, ah benar saja tak selalu indah ia kutatap tanpa si gadis manja
Berpayung pada hujan didekap oleh gigil. Seperti rindu yang tak hentinya memanggil.

Bandung, 17/01/17